Minggu, 11 April 2010

Ibuku adalah,

Ibuku adalah ketika aku datang mengadu sambil menangis tersedu-sedu. Ketika badanku mau runtuh, Ibulah yang mengusap sambil berkata "Kamu memang bukan yang terbaik buat dia". Ibuku memang setan logika. Beliau tidak pernah berpikir bagaiman manis akan dirasa. Beliau selalu melihat segalanya dari sisi abu-abu. "Melihat sesuatu dari kelemahan kita adalah cara paling bijak untuk bertahan hidup" begitu katanya.

Ibuku adalah ketika beliau membentakku dengan kata-kata kasar. Memarahiku dengan mata nanar. Lalu, beberapa menit berselang ia bertanya "kamu sudah makan sayang?". Beliau memang gampang naik darah, omongnya juga tidak mau kalah, dan lagi ia adalah wanita paling keras kepala yang pernah ada. Namun tidaklah ia tega melihat anak sulungnya merasa bersalah. Ia lantas membuatkanku sepiring mie atau apapun yang aku suka.

Ibuku adalah ketika aku meminta segalanya. Apapun itu, selama beliau bisa beliau memenuhinya. Walaupun dengan mata lelah karena seharian bekerja. Ibuku tetap ibu nomor satu di dunia. Ketika aku bangun pagi, ketika itu juga beliau pergi untuk membeli bahan makanan. Lalu dibuatkan lah aku selembar roti sambil berkata "mau makan siang pakai apa?". Lalu ketika siang hari, tak ada makanan di meja. Aku meneleponnya dan berkata "mana sih makanannya ma? kok gak masak?" dengan nada siapa elu siapa gua. Dan ibuku yang biasanya galak berkata "ada di kulkas, kamu panasin makan siangnya" begitu ia berkata walaupun (seperti biasa) dengan nada tidak mau kalah.

Ibuku adalah ketika ia pulang larut malam, dan aku menunggu nya hanya untuk makan malam. Karena beliau rutin membawakan aku dan ayahku makanan. Lalu, selagi kami makan Ibuku bercerita tentang teman kerjanya yang lucu sampai kami tertawa, ia juga membagi cerita tentang bagaimana atasannya yang seringkali suka tidak mau disalahkan. Semua itu seakan menjadi warna khusus pemecah sunyinya malam..begitulah ia berusaha menyembunyikan segala letih yang meradang. Begitu juga beliau berusaha untuk selalu ceria tanpa beban.

Ibuku adalah ketika aku (lagi-lagi) menangis menulis cerita tentangnya. Cerita paling indah untuknya yang hanya bisa kugoreskan dengan kata-kata. Bukan dengan jutaan uang melimpah hasil ku bekerja. Mengingat betapa sering aku melukai hatinya. Mengingat sampai pada detik ini aku belum bisa menjadi seperti pintanya. Tapi aku tak pernah bosan meminta, gadget baru, uang jajan dan segala tetek bengek yang sepertinya tak seharusnya kuminta. Tapi Ibu tetap menurutinya.

Ibuku adalah mutiara, dan semoga nanti aku bisa menjadi malaikat untuknya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar