Jika ayah memang tahu segalanya,
biarkan beliau meminta kepada siapa yang sedari tadi dipandangnya.
kaku, dingin, dari kepala sampai kaki. Merah wajahnya.
Ini bukan balada Siti Nurbaya.
Ketika beliau meminta dengan segala keangkuhannya.
Beliau ingin anak perempuannya memilih apa yang dulu dipilihnya.
Lantas, anak perempuannya terduduk lesu.
Diam, menatap lantai dari tempat ia duduk di bangku.
Tiada interupsi,
karena ayah memang benci.
Tiada hari ini sedikitpun kelakar,
yang biasa beliau gumam sambil tertawa dengan mulut melebar.
Ayah tetap meminta.
Raut wajahnya mulai mengiba, anak perempuannya mengeluarkan kata-kata.
"Baiklah ayah" katanya sambil tersenyum tiada sandiwara.
Jika ayah memang tahu segalanya,
Beliau pasti tahu anaknya berharap dan bahagia.
Beliau menjanjikan akan memberi sesuatu,
yang anaknya impikan sedari dulu.
Beliau tahu,
Inilah jalan yang telah digariskan
Dan tiada satupun bisa mengelak dari ketentuan.
Anak ayah pun tahu,
Inilah memang jalan yang harus ia tuju.
Kemauan ayah, yang ia yakini akan berakhir indah.
Kemauan ayah, yang ia tahu disanalah mimpi merekah.
Kamis, 18 Februari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar