Saya dan kamu berawal dari serpihan mimpi.
Tiga tahun lalu dikumpulkan dalam kotak putih abu-abu yang harus diisi.
Diam, saling lihat depan belakang kanan, kiri.
Saya dan kamu berawal dari kepulan asap kecil obsesi.
Masa depan, cita-cita yang selama ini di otak, menemani.
Tekad, kemauan, usaha membeku dalam hati tiada mati.
Lalu (masih) saya dan kamu mulai belajar.
Tentang waktu yang enggan ditawar.
Dan semua, seperti roda, mulai berjalan, apa adanya.
Entah mengapa sekarang saya dan kamu menjadi kita.
Dengan pagi yang selalu setia menyapa.
Kita bersama.
Saat itulah kotak putih abu-abu itu terisi.
“Cerita dan Mimpi” adalah peran utama yang selalu mewarnai.
Hampir setiap hari, kita disitu.
Memberi rasa dalam tawarnya putih abu.
Karena, kita masih berkepala satu.
Segala kebahagiaan rasanya menjadi saksi bisu berjalannya waktu.
Lalu, kita berjalan lengang, tanpa menoleh kebelakang.
Sekarang kita mengerti. Kita tetap akan diakhiri oleh mimpi.
Matahari masih akan tetap tersenyum, menuntun langkah yang dikehendaki
Pagi masih akan tetap menyapa,
Mengajak kita untuk bangun dan meraih segenap asa.
Walaupun berakhir, masa-masa indah ini, masih akan ada, melekat, menempel,
dalam otak sampai mati.
Pada akhirnya gerbang pun terbuka,
Mengajak kita untuk melihat sisi lain dunia.
Pada akhirnya warna putih abu-abu pun luruh.
Oleh masa depan yang harus diraih walau dengan jutaan peluh.
Tiga tahun lalu dikumpulkan dalam kotak putih abu-abu yang harus diisi.
Diam, saling lihat depan belakang kanan, kiri.
Saya dan kamu berawal dari kepulan asap kecil obsesi.
Masa depan, cita-cita yang selama ini di otak, menemani.
Tekad, kemauan, usaha membeku dalam hati tiada mati.
Lalu (masih) saya dan kamu mulai belajar.
Tentang waktu yang enggan ditawar.
Dan semua, seperti roda, mulai berjalan, apa adanya.
Entah mengapa sekarang saya dan kamu menjadi kita.
Dengan pagi yang selalu setia menyapa.
Kita bersama.
Saat itulah kotak putih abu-abu itu terisi.
“Cerita dan Mimpi” adalah peran utama yang selalu mewarnai.
Hampir setiap hari, kita disitu.
Memberi rasa dalam tawarnya putih abu.
Karena, kita masih berkepala satu.
Segala kebahagiaan rasanya menjadi saksi bisu berjalannya waktu.
Lalu, kita berjalan lengang, tanpa menoleh kebelakang.
Sekarang kita mengerti. Kita tetap akan diakhiri oleh mimpi.
Matahari masih akan tetap tersenyum, menuntun langkah yang dikehendaki
Pagi masih akan tetap menyapa,
Mengajak kita untuk bangun dan meraih segenap asa.
Walaupun berakhir, masa-masa indah ini, masih akan ada, melekat, menempel,
dalam otak sampai mati.
Pada akhirnya gerbang pun terbuka,
Mengajak kita untuk melihat sisi lain dunia.
Pada akhirnya warna putih abu-abu pun luruh.
Oleh masa depan yang harus diraih walau dengan jutaan peluh.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar